Latest News

Ex : HAK JAWAB PEMBERITAAN MEDIA

Posted by MIZAN on Rabu, 19 Agustus 2009 , under | komentar (0)



Pontianak, 09 Maret 2005


Lamp : 1 (satu) berkas Kepada Yang Terhormat;
Perihal : Hak Jawab Pimpinan Redaksi Majalah AUDIO MOBIL
Di -
J A K A R T A



Dengan Hormat,

Membaca berita pada Media Cetak Majalah AUDIO MOBIL yang Saudara Pimpin, pada edisi 02/TH IV/ Februari 2005 halaman 12-14 dan Head Line dengan judul serupa : “MARADONA DI KONTES IASCA” ditemukan berita yang telah mendiskreditkan dan mencemarkan nama baik saya, EDDY SALIM selaku pemenang dalam Kontes di Bali pada bulan Desember 2004 yang lalu, adapun kutipan berita tersebut adalah sebagai berikut:

“Dahulu Tangan Maradona menahan bola ketika mau masuk ke gawangnya. Saat itu tangan Maradona disebut tangan malaikat…………………………………………………………………………….”

“Gaya Maradona juga terjadi di Bali IASCA Auto Contest 2004, akhir tahun lalu. Berawal dari protes yang diajukan oleh Eddy Salim, instalatur Automatch yang baru menjadi juara SQ Pontianak turun di kelas Rookie. Protes………………………………………………………………………………”

(copy kliping berita terlampir).

Bahwa baik judul maupun berita tersebut media saudara telah dengan sengaja menyimpulkan adanya kecurangan atas kemenangan yang saya peroleh dalam Kontes di Bali pada bulan Desember 2004 dengan menyamakan kemenangan saya tersebut dengan tindakan Maradona yang mempergunakan tangan untuk memasukkan bola ke gawang lawan yang diyakini sebagai suatu kecurangan yang telah dilakukan Maradona dalam pertandingan sepak bola (yaitu pada partai final melawan Inggris dan mengantarkan Argentina menjadi juara dunia pada waktu itu), menurut saya berita tersebut berkonotasi negatif .

Bahwa dalam pemberitaan tersebut media saudara tidak mencantumkan baik nama penulis berita maupun pembuat fotonya sebagaimana layaknya dapat ditemukan pada hampir semua artikel dalam majalah saudara tersebut, hal ini menjadi sangat aneh, apalagi berita tersebut tidak berusaha menampilkan berita sesuai fakta yang ada maupun berita yang berimbang terhadap pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Bahwa pada pemberitaan tersebut media Saudara telah berusaha membentuk opini pembaca bahwa saya yang seharusnya di diskualifikasi karena membuka pintu pada saat pengukuran SPL tanpa menuliskan alasan saya buka pintu karena system tidak bunyi, menjadi juara 1 karena memprotes Pemakaian EAR PROTECTION sehingga terjadi pengulangan pengukuran SPL.
Diskualifikasi
Diskualifikasi hanya dijatuhkan kepada peserta yang terbukti curang (contohnya menaikkan angka perolehan SPL dengan sengaja membuat kebocoran ruang) rules book hal. 6 no. 6, mencaci, mengancam juri/official iasca dan peserta lain rules book hal. 6 no. 5, membawa senjata tajam rules book hal. 6 no. 4 dan lain sebagainya.

System Tidak Bunyi
Tercantum dalam Rules Book IASCA hal. 7 no. 15 bahwa apabila terjadi kegagalan system, maka kompetitor berhak mendapatkan waktu tidak lebih dari 5 menit untuk memperbaikinya. “If a system occurs during the judging process for any reason,……….the contestant will have no more than 5 minutes from the time that he/she is informed to repair the failure……..”
Dan itu juga dibenarkan oleh surat Chris Oblom Director Of Foreign & Domestic Operation dan juga jawaban dari kompetitor IASCA WORLDWIDE dari forum IASCA yang saya lampirkan.

Pemakaian EAR PROTECTION
Sesuai rules IASCA hal. 71 no. 6 dan hal. 68 no. 7 dengan jelas menyebutkan “If the contestant control the system from inside the vehicle during SPL testing, IASCA approved hearing protection must be worn (greater than 20 db attenuation). Failure to wear hearing protection will result in a forfeiture of SPL Point.

Bahwa sangat disayangkan sebelum berita dimuat wartawan saudara tidak pernah meminta keterangan atau melakukan konfirmasi pada saya maupun pada Penyelenggara Kontes (IASCA) sebagai pihak yang secara nyata-nyata terkait dalam Kontes tersebut sehubungan dengan tata cara pelaksanaan kontes yang mengacu pada peraturan yang telah disepakati dan dipakai pada event kontes yaitu Rules Book IASCA.

Bahwa saya mempunyai fakta berupa data-data dan bukti yang menyatakan bahwa tidak ada yang salah dalam kemenangan saya tersebut. Dimana ketika hal ini saya konfirmasikan kepada Masyarakat peserta IASCA, IASCA USA, IASCA Indonesia dan Forum IASCA yang dibaca oleh seluruh peserta aktif Kompetisi IASCA di seluruh Dunia semua menyatakan dengan tegas bahwa kemenangan saya adalah kemenangan yang sah sebagaimana aturan yang mengacu pada BOOK RULES IASCA (Terlampir).

Bahwa berita tersebut jelas-jelas tidak obyektif, dan hal ini bertentangan dengan azas, fungsi, kewajiban dan peran pers, sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 ayat (1) Undang-Undang Pers No. 40 tahun 1999 serta kode etik jurnalistik wartawan Indonesia tentang Cara Pemberitaan sebagaimana di atur dalam pasal 3, yang pada pokoknya berisi ketentuan sebagai berikut:

Undang-undang No. 40 Tahun 1999:
- Pasal 5 ayat (1) :Pers Nasional berkewajiban memberitakan peristiwa dan opini dengan menghormati norma-norma agama dan rasa kesusilaan masyarakat serta azas praduga tak bersalah.

Kode Etik Jurnalistik Wartawan Indonesia:
- Pasal 3: Wartawan Indonesia menghormati asas praduga tak bersalah, tidak mencampurkan fakta dengan opini, berimbang dan selalu meneliti kebenaran informasi, serta tidak melakukan plagiat. Penafsirannya:
Wartawan Indonesia dalam melaporkan dan menyiarkan informasi, tidak menghakimi atau membuat kesimpulan kesalahan seseorang, terlebih lagi untuk kasus-kasus yang masih dalam proses peradilan. Wartawan tidak memasukan opini pribadinya. Wartawan sebaiknya, dalam melaporkan dan menyiarkan informasi perlu meneliti kembali kebenaran informasi. Dalam pemberitaan kasus bermasalah dan perbedaan pendapat, masing-masing pihak harus diberi ruang/waktu pemberitaan yang berimbang.

Sehubungan dengan berita yang merugikan kami tersebut, sesuai dengan pasal 1 butir 11 Jo. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers dan Pasal 7 Kode Etik Jurnalistik, perihal Hak Jawab kami minta agar saudara memuat secara lengkap tanggapan/sanggahan kami sebagaimana di bawah ini :

1. Bahwa saya sangat menyesal dalam pemberitaan edisi 02/TH IV/ Februari 2005 halaman 12-14 pada majalah AUDIO MOBIL yang tidak meminta keterangan atau mengkonfirmasikan pada kami sebelum memuat berita tersebut (Cover both side), sehingga media tersebut membuat berita yang tidak obyektif dan telah membuat kesimpulan yang tidak beralasan sehingga membentuk opini yang keliru dan menyesatkan yang merugikan nama baik dan kehormatan Saya.

2. Bahwa dalam membuat berita, media saudara seharusnya tidak hanya mengakomodasi kepentingan salah satu pihak saja, tetapi dalam berita tersebut media Saudara seharusnya juga mampu mengakomodasi kepentingan semua pihak yang terkait.

3. Bahwa kemenangan yang saya peroleh dalam kontes di Bali pada bulan Desember 2004 tersebut adalah kemenangan yang sah dan meyakinkan, dan tidak ada kesalahan dan pelanggaran yang dilakukan saya dalam memperoleh kemenangan sebagaimana aturan yang mengacu pada BOOK RULES IASCA.

4. Bahwa ketika terjadi pengukuran ulang sebagaimana keputusan Judge (Juri Kontes SQ IASCA di Bali) tersebut, kemudian saya dinyatakan sebagai pemenangnya, maka apakah saya patut disalahkan karena mampu mengalahkan peserta lain?

Demikian tanggapan/sanggahan kami atas berita di media saudara dan mengacu pada Hak Jawab kami, harap tanggapan/sanggahan ini dimuat seutuhnya dalam format yang sama pada edisi berikutnya pada bulan Maret atau April dengan kwalitas dan kwantitas penulisan yang sama, dengan judul pada Head Line, halaman serta jumlah halaman yang sama pula sebagaimana berita tentang hal tersebut pada pada edisi 02/TH IV/ Februari 2005 halaman 12-14 yang lalu.

Atas perhatiannya diucapkanTerima Kasih.



Hormat saya,




E D D Y S A L I M
Automatch Pontianak



Tembusan Yth:
1. Dewan Pers Indonesia di Jakarta.
2. IASCA Indonesia di Jakarta.
3. Dewan Penasihat Majalah AUDIO MOBIL di Jakarta.

Ex : PERMOHONAN GRASI

Posted by MIZAN on , under | komentar (0)



Pontianak, Juni 2002

Hal : PERMOHONAN GRASI. Kepada Yang Terhormat:
Presiden Republik Indonesia
Di –
Jakarta
Melalui:
Yang Terhormat,
Bapak Ketua Pengadilan Negeri Klas 1A Pontianak
DI –
Pontianak

Dengan hormat,
Yang bertanda tangan dibawah ini, saya:
Nama Lengkap : DIONISIUS DION als DION
Tempat Lahir : Sanggau
Umur/Tgl Lahir : 28 tahun / 13 Agustus 1974
Jenis kelamin : Laki-laki
Kewarganegarawan : Indonesia
Tempat Tinggal : Tempurau, Desa Balai Pinang Kec. Balai Bekuak
Kabupaten Ketapang.
Agama : Khatolik
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan : SMU
Selanjutnya disebut PEMOHON GRASI

Setelah membaca Putusan Pengadilan Negeri Pontianak Tanggal 6 Juni 2002 No. 185/PID.B/2002/PN.PTK, yang mana Pemohon dijatuhi hukuman pidana selama 8 (delapan) bulan penjara, dan denda sebesar Rp 25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah) subsider kurangan 2 bulan, bahwa terhadap putusan tersebut Pemohon Grasi merasa sangat berat untuk menjalaninya sebab Pemohon Grasi hanya dipersalahkan melakukan tindak pidana pasal 50 ayat (3) huruf h jo pasal 78 ayat 7 UU No. 41 tahun 1999, sedangkan Pemohon adalah tulang punggung keluarga dalam mencari nafkah untuk keperluan hidup sehari-hari.
Bahwa pemohon dalam putusan tersebut tidak segera harus melaksanakan putusan tersebut, maka dengan ini pemohon mengajukan upaya Hukum Grasi / Ampun kepada Presiden Republik Indonesia dengan alasan sebagai berikut:
1. Bahwa Pemohon sangat menyesal atas perbuatan tersebut;
2. Pemohon adalah Kepala Keluarga dalam mencari nafkah;
3. Pemohon mempunyai anak-anak yang masih kecil, sangat membutuhkan bimbingan dari pemohon sebagai orangtuannya
4. Pemohon berusaha sekuat tenaga untuk menghindari diri dari perbuatan pidana.
Bahwa dengan alasan-alasan yang pemohon kemukakan diatas, sudilah kiranya memberikan putusan untuk mengabulkan permohonan Grasi dari Pemohon.
Demikianlah permohonan Grasi ini disampaikan dan atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

Hormat Pemohon,



DIONISIUS DION